Usaha
yang Memberikan Arti
Dalam sebuah perjalanan
darat , rombongan A mengalami kerusakan dengan mobilnya terpaksa mereka harus
berdiam dahulu semalam di dalam hutan . Sementara rombongan B telah tiba di
tempat tujuan . Rombongan A yang terdiri dari 8 orang , kemudian bergegas keluar dari mobil dan
mencari bantuan di dalam hutan walaupun hal itu di pikir tak mungkin tetapi
mereka tetap berusaha . Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah gubuk yang
sudah sangat tua . Mereka kemudian mencoba menghampiri gubuk tua itu . Setelah
di ketuk dan tak ada jawaban dari dalam mereka akhirnya mencoba membuka pintu
itu . Dengan kaget , mereka melihat sesosok wanita tua yang sedang menyulam
sebuah baju .
“ Silahkan
masuk , maaf rumah saya begitu kotor “ , kata wanita tua itu .
“ Ia , terima kasih “, kata mereka sambil berjalan
menuju wanita itu .
“Sebelumnya kami berterima kasih karena telah di
izinkan masuk , kami kesini karena hanya rumah ini yang kami temukan di
sepanjang perjalanan kami di tengah hutan ini . Kami ingin mencari bantuan
karena mobil kami rusak . Disini , ibu tinggal sendiri ? “, Tanya pemimpin
rombongan A .
“Tidak , disini saya tinggal bersama seorang anak
saya . Namanya Jeje . Mungkin anak saya dapat membantu kalian .” , jawab ibu
itu .
“Baiklah , namun
dari tadi kami tidak kunjung melihat anak mu itu “ sahut heran dari pemimpin .
“Memang betul ,
anak saya sedang bersekolah . Biasanya ia pulang pada sore hari “, jawab
ibu itu .
“Oh , kalau begitu kami tunggu anak ibu saja “,
jawab pemimpin .
Setelah beberapa jam
menunggu , Jeje akhirnya pulang . Ia langsung memberi salam dan mencium tangan
ibunya . Tak hanya ibunya , kedelapan orang yang bertamu di rumahnya itu ikut
juga dia mencium tangannya dan memberi salam . Ibunya kemudian menjelaskan
kepada Jeje , bahwa orang – orang yang bertamu di rumahnya itu adalah
sekelompok orang dari kota yang melakukan perjalanan namun mobil mereka rusak
tak jauh dari rumah mereka . Ibunya juga menjelaskan tujuan dari rombongan itu
menghampiri rumah mereka karena mereka ingin mencari bantuan dan berharap jika
Jeje bersedia membantu mereka. Karena
tak ada seornag pun di antara mereka yang pandai membentulkan mesin
mobil . Dan Jeje pun bersedia untuk membantu mereka .
“Sebelumnya , kami berterima kasih karena kamu sudah
bersedia membantu kami . Namun , darimana kamu pandai membetulkan mesin mobil ?
, Tanya pemimpin .
“Saya mempelajarinya dari Koran yang saya baca “ ,
jawabnya .
“Koran ? Maksudnya ? “ Tanya heran dari pemimpin .
“Setiap pukul 5 pagi ,
saya berangkat dari rumah untuk bersekolah di kota karena di desa ini tak ada
sekolah . Karena hari masih gelap maka saya menggunakan lilin untuk menerangi
jalan saya di sepanjang hutan . Pulang
pergi saya menghabiskan 1 batang lilin . Sesampai di kota yaitu pukul 6 . Saya
kemudian bekerja untuk menghantarkan Koran – Koran ke setiap rumah masyarakat .
Upah yang saya peroleh di hitung per hari . Dari pekerjaan ini saya memperoleh
upah Rp 20 .000 . Setelah menghantarkan
Koran pukul 7 , saya langsung bergegas berjalan lagi 1 km untuk sampai di
sekolah dari kantor Koran tempat saya bekerja . Setelah pulang sekolah yaitu
pukul 3 , saya kemudian bekerja kembali di tempat produksi susu untuk
menghantarkan susu ke rumah – rumah . Sama halnya dengan menghantarkan Koran ,
saya mendapatkan upah per harinya . Untuk menghantarkan saya mendapatkan upah
30.000 . Jadi , perharinya saya memperoleh Rp 50.000 yang mungkin dapat
meringankan beban ibu saya . Namun yang saya berikan ke ibu saya hanya Rp 48.000
karena Rp 2.000 telah saya gunakan untuk membeli lilin yang akan saya gunakan
ke esokan harinya . Sedangkan ayah saya sudah lama pergi meninggalkan kami
sewaktu yang berusia 7 tahun . Ia pergi meninggalkan kami karena ia sudah capek
mengurusi ibu saya yang lumpuh . Karena itu , saya berusaha untuk bisa menjadi
anak yang bisa membanggakan , melindungi , dan menjadi yang terbaik bagi orang
yang paling saya cintai yaitu ibu saya “ jawab anak itu .
“Ternyata perjuanganmu begitu besar untuk orang
tuamu . Bagaimana kalau setelah mobil kamu baik kembali , saya ingin mengajakmu
ke kota dan merekomendasikan nilai – nilai yang telah kamu peroleh untuk bisa
mendapatkan beasiswa ? Tanya pemimpin .
“Namun , bagaimana pula dengan ibu saya ? Jika ,
saya pergi siapa yang akan mengurusnya ? Bapak , tahu sendiri jika ibu saya lumpuh sehingga
sulit melakukan apapun sendirian “ jawab Jeje .
“Kamu tidak perlu khawatir terhadap ibu nak . Ibu akan baik – baik saja . Kamu pergi saja
ke kota dan berusaha untuk mendapatkan beasiswa itu “potong ibunya .
“Baiklah ibu ,
ini saya lakukan karena ibu yang memintanya “ jawab Jeje .
Setelah mobil rombongan
A diperbaiki , mereka kemudian bergegas menuju kota . Disana Jeje tinggal di
rumah pemimpin rombongan itu . Setelah seminggu disana , keluarlah kabar
ternyata nilai yang dia peroleh sangat memuaskan dan berhak mendapatkan
beasiswa senilai Rp 270.000.000 . Untuk acara penyerahan beasiswa tersebut
diadakan secara megah dengan ikut mengundang pers . Ia kemudian menggunakan seragam sekolahnya .
Ketika tiba waktu penyerahan beasiswa tersebut Jeje
kemudian berkata , “ saya tidak perlu beasiswa tersebut !”
“Mengapa ? Apakah itu kurang untukmu ?” Tanya
pemimpin .
“Tidak !”
jawab Jeje
“Lalu , mengapa kamu menolaknya ? Atau kamu ingin
menggantinya dengan sebuah rumah , mobil , atau kamu ingin menggunakannya untuk
obat ibumu ?” Tanya pemimpin kembali .
“ Tidak . Saya tidak perlu semua itu . Sebenarnya
saya ikut bapak ke kota bukan untuk mengejar beasiswa ataupun semacamnya tersebut
tetapi saya hanya ingin berdiri di hadapan seluruh orang dan menyampaikan
sesuatu yang sejak dahulu ingin saya katakan melalui acara ini karena saya tahu
jika dalam acara seperti ini pasti akan diliput di siaran televisi . Apakah bapak mengizinkan saya mengatakn hal
itu ?” tanya Jeje .
“Baiklah nak !” sahut pemimpin .
“Akhirnya apa yang saya
impikan untuk bisa berdiri di hadapan orang – orang penting di Negara ini
bahkan di hadapan seluruh rakyat Amerika dapat terwujud . Ibu , lihatlah seragam yang aku kenakan . Ini
adalah seragam pertama dan terakhir yang engkau berikan padaku dari penghasilan
terakhirmu . Seragam ini aku kenakan terus tak peduli jika seragam ini sudah
mulai sobek dan rusak . Asalkan aku masih bisa menggunakannya untukmu ibu .
Dahulu kami adalah keluarga yang bahagia dan sukses . Namun 5 tahun yang lalu
semuanya berubah , yang diawalinya dengan pindahnya kami ke dalam hutan . Ayah
, aku tahu jika sekarang ayah sedang
menontonku di televise . Dengar aku ayah , walau ayah telah meninggalkan ibu
dan aku . Tetapi , kami tak pernah marah
kepada ayah bahkan kami sangat merindukan ayah . Apalagi ibu , yang setiap
malam mengigau tentang Ayah . Aku tahu
alasan ayah meninggalkan kami karena Ayah capek mengurusi ibu yang sedang
lumpuh . Tetapi , di balik itu Ayah
meninggalkan kami karena Ayah ingin mencari kerja untuk bisa membahagiakan kami
seperti dulu . Aku tahu ini dari surat yang ayah letakkan dalam tas yang
sekarang aku gunakan yang sebenarnya ingin ayah berikan kepada ibu . Namun ,
mengapa ayah malah tidak memberikan kepada ibu ? Aku tak peduli dengan jawaban
ayah . Akhir kata , saya ingin Ayah
kembali kepada kami jika benar yang tertulis seperti dalam surat ayah
ini . Aku dan ibu selalu menunggu Ayah di rumah . Dan ibu , maaf jika beasiswa ini saya tolak . Aku lebih
menikmati uang yang aku peroleh dengan perlahan – lahan dan melalui kerja
tanganku sendiri karena dari situ pula aku belajar arti hidup dan arti jerih payah . Ayah , ibu
aku menyayangi kalian “ , kata Jeje
Semua orang yang ada di
ruang tersebut terharu bahkan selama ia mengungkapkan perasaannya tak ada suara
sedikit pun . Suara tepuk tangan dan sorak – sorai mengumandangkan namanya baru
terdengar setelah ia selasai berbicara . Semua orang kagum dengan pola pikir
anak remaja seperti dirinya . Pujian pun tak berhenti mengalir kepada Jeje
sejak ia memberanikan dirinya berkata di halayak banyak orang . Namun , karena
ia menolak beasiswa tersebut ia akhirnya menolak untuk segera pulang dan
bertemu dengan ibunya . Hari – hari seperti biasa kembali dijalani Jeje dengan
penuh keceriaan . Hingga 1 bula berlalu sejak kejadian itu , muncul sesosok pria berjas hitam dan membawa
banyak belanjaan datang menghampiri Jeje dan ibunya yang waktu itu berada di teras rumah mereka . Ternyata itu
adalah ayah Jeje yang ia rindukan bersama ibunya . Ayahnya kemudian meminta
maaf dan menjelaskan alasannya tak memberikan surat itu kepada ibunya . Jeje
merasa heran . Namun Ayahnya berterima kasih kepada Jeje yang mengungkapkan
perasaannya lewat acara tersebut dari situ ia tahu jika Jeje dan istrinya masih
tetap mempercayainya dan merindukan ia untuk kembali . Untuk , menepati
janjinya ia memberikan belanjaan yang ia bawa untuk segera di kenakan Jeje dan
istrinya . Dan mereka pun di bawa ke kota untuk tinggal bersama ayah Jeje yang
kini sudah kembali sukses . Mereka pun kembali hidup bahagia .
Jadi , dalam hidup penuh dengan gelombang . Yang
begitu nikmat ketika kita di terpa gelombang naik namun begitu menyakitkan
ketika merasakan gelombang turunnya . Ketika , berada pada gelombang turun
tersebut jangan mudah menerapkan prinsip untuk putus asa begitu saja dan
prinsip untuk menikmati kesenangan sesaat . Namun , gunakan gelombang turun
tersebut untuk menciptakan suatu usaha yang sangat berarti dan tak terlupakan
karena dari situ pula kedewasaan seseorang mulai tercipta . Jadikan hidup
sebagai perjalanan . Keberhasilan tidak dilihat dari berapa lama waktu untuk
mencapainya tetapi dilihat dari berapa sering kesalahan datang dan usaha kita
untuk mengusir jauh kesalahan itu .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar