Jumat, 24 Februari 2012


Usaha yang Memberikan Arti

Dalam sebuah perjalanan darat , rombongan A mengalami kerusakan dengan mobilnya terpaksa mereka harus berdiam dahulu semalam di dalam hutan . Sementara rombongan B telah tiba di tempat tujuan . Rombongan A yang terdiri dari 8 orang ,  kemudian bergegas keluar dari mobil dan mencari bantuan di dalam hutan walaupun hal itu di pikir tak mungkin tetapi mereka tetap berusaha . Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah gubuk yang sudah sangat tua . Mereka kemudian mencoba menghampiri gubuk tua itu . Setelah di ketuk dan tak ada jawaban dari dalam mereka akhirnya mencoba membuka pintu itu . Dengan kaget , mereka melihat sesosok wanita tua yang sedang menyulam sebuah baju .
 “ Silahkan masuk , maaf rumah saya begitu kotor “ , kata wanita tua itu .
“ Ia , terima kasih “, kata mereka sambil berjalan menuju wanita itu .
“Sebelumnya kami berterima kasih karena telah di izinkan masuk , kami kesini karena hanya rumah ini yang kami temukan di sepanjang perjalanan kami di tengah hutan ini . Kami ingin mencari bantuan karena mobil kami rusak . Disini , ibu tinggal sendiri ? “, Tanya pemimpin rombongan A .
“Tidak , disini saya tinggal bersama seorang anak saya . Namanya Jeje . Mungkin anak saya dapat membantu kalian .” , jawab ibu itu .
“Baiklah ,  namun dari tadi kami tidak kunjung melihat anak mu itu “ sahut heran dari pemimpin .
“Memang betul ,  anak saya sedang bersekolah . Biasanya ia pulang pada sore hari “, jawab ibu itu .
“Oh , kalau begitu kami tunggu anak ibu saja “, jawab pemimpin .
Setelah beberapa jam menunggu , Jeje akhirnya pulang . Ia langsung memberi salam dan mencium tangan ibunya . Tak hanya ibunya , kedelapan orang yang bertamu di rumahnya itu ikut juga dia mencium tangannya dan memberi salam . Ibunya kemudian menjelaskan kepada Jeje , bahwa orang – orang yang bertamu di rumahnya itu adalah sekelompok orang dari kota yang melakukan perjalanan namun mobil mereka rusak tak jauh dari rumah mereka . Ibunya juga menjelaskan tujuan dari rombongan itu menghampiri rumah mereka karena mereka ingin mencari bantuan dan berharap jika Jeje bersedia membantu mereka. Karena  tak ada seornag pun di antara mereka yang pandai membentulkan mesin mobil . Dan Jeje pun bersedia untuk membantu mereka .

“Sebelumnya , kami berterima kasih karena kamu sudah bersedia membantu kami . Namun , darimana kamu pandai membetulkan mesin mobil ? , Tanya pemimpin .
“Saya mempelajarinya dari Koran yang saya baca “ , jawabnya .
“Koran ? Maksudnya ? “ Tanya heran dari pemimpin .
“Setiap pukul 5 pagi , saya berangkat dari rumah untuk bersekolah di kota karena di desa ini tak ada sekolah . Karena hari masih gelap maka saya menggunakan lilin untuk menerangi jalan saya di sepanjang hutan  . Pulang pergi saya menghabiskan 1 batang lilin . Sesampai di kota yaitu pukul 6 . Saya kemudian bekerja untuk menghantarkan Koran – Koran ke setiap rumah masyarakat . Upah yang saya peroleh di hitung per hari . Dari pekerjaan ini saya memperoleh upah Rp 20 .000  . Setelah menghantarkan Koran pukul 7 , saya langsung bergegas berjalan lagi 1 km untuk sampai di sekolah dari kantor Koran tempat saya bekerja . Setelah pulang sekolah yaitu pukul 3 , saya kemudian bekerja kembali di tempat produksi susu untuk menghantarkan susu ke rumah – rumah . Sama halnya dengan menghantarkan Koran , saya mendapatkan upah per harinya . Untuk menghantarkan saya mendapatkan upah 30.000 . Jadi , perharinya saya memperoleh Rp 50.000 yang mungkin dapat meringankan beban ibu saya . Namun yang saya berikan ke ibu saya hanya Rp 48.000 karena Rp 2.000 telah saya gunakan untuk membeli lilin yang akan saya gunakan ke esokan harinya . Sedangkan ayah saya sudah lama pergi meninggalkan kami sewaktu yang berusia 7 tahun . Ia pergi meninggalkan kami karena ia sudah capek mengurusi ibu saya yang lumpuh . Karena itu , saya berusaha untuk bisa menjadi anak yang bisa membanggakan , melindungi , dan menjadi yang terbaik bagi orang yang paling saya cintai yaitu ibu saya “ jawab anak itu .
“Ternyata perjuanganmu begitu besar untuk orang tuamu . Bagaimana kalau setelah mobil kamu baik kembali , saya ingin mengajakmu ke kota dan merekomendasikan nilai – nilai yang telah kamu peroleh untuk bisa mendapatkan beasiswa ? Tanya pemimpin .
“Namun , bagaimana pula dengan ibu saya ? Jika , saya pergi siapa yang akan mengurusnya ? Bapak ,  tahu sendiri jika ibu saya lumpuh sehingga sulit melakukan apapun sendirian “ jawab Jeje .
“Kamu tidak perlu khawatir terhadap ibu nak .  Ibu akan baik – baik saja . Kamu pergi saja ke kota dan berusaha untuk mendapatkan beasiswa itu “potong ibunya .
“Baiklah ibu ,  ini saya lakukan karena ibu yang memintanya “ jawab Jeje .
Setelah mobil rombongan A diperbaiki , mereka kemudian bergegas menuju kota . Disana Jeje tinggal di rumah pemimpin rombongan itu . Setelah seminggu disana , keluarlah kabar ternyata nilai yang dia peroleh sangat memuaskan dan berhak mendapatkan beasiswa senilai Rp 270.000.000 . Untuk acara penyerahan beasiswa tersebut diadakan secara megah dengan ikut mengundang pers . Ia  kemudian menggunakan seragam sekolahnya .
Ketika tiba waktu penyerahan beasiswa tersebut Jeje kemudian berkata , “ saya tidak perlu beasiswa tersebut !”
“Mengapa ? Apakah itu kurang untukmu ?” Tanya pemimpin .
“Tidak  !” jawab Jeje
“Lalu , mengapa kamu menolaknya ? Atau kamu ingin menggantinya dengan sebuah rumah , mobil , atau kamu ingin menggunakannya untuk obat ibumu ?” Tanya pemimpin kembali .
“ Tidak . Saya tidak perlu semua itu . Sebenarnya saya ikut bapak ke kota bukan untuk mengejar beasiswa ataupun semacamnya tersebut tetapi saya hanya ingin berdiri di hadapan seluruh orang dan menyampaikan sesuatu yang sejak dahulu ingin saya katakan melalui acara ini karena saya tahu jika dalam acara seperti ini pasti akan diliput di siaran televisi .  Apakah bapak mengizinkan saya mengatakn hal itu ?” tanya Jeje .
“Baiklah nak !” sahut pemimpin .
“Akhirnya apa yang saya impikan untuk bisa berdiri di hadapan orang – orang penting di Negara ini bahkan di hadapan seluruh rakyat Amerika dapat terwujud . Ibu ,  lihatlah seragam yang aku kenakan . Ini adalah seragam pertama dan terakhir yang engkau berikan padaku dari penghasilan terakhirmu . Seragam ini aku kenakan terus tak peduli jika seragam ini sudah mulai sobek dan rusak . Asalkan aku masih bisa menggunakannya untukmu ibu . Dahulu kami adalah keluarga yang bahagia dan sukses . Namun 5 tahun yang lalu semuanya berubah , yang diawalinya dengan pindahnya kami ke dalam hutan . Ayah ,  aku tahu jika sekarang ayah sedang menontonku di televise . Dengar aku ayah , walau ayah telah meninggalkan ibu dan aku . Tetapi ,  kami tak pernah marah kepada ayah bahkan kami sangat merindukan ayah . Apalagi ibu , yang setiap malam mengigau tentang Ayah .  Aku tahu alasan ayah meninggalkan kami karena Ayah capek mengurusi ibu yang sedang lumpuh . Tetapi ,  di balik itu Ayah meninggalkan kami karena Ayah ingin mencari kerja untuk bisa membahagiakan kami seperti dulu . Aku tahu ini dari surat yang ayah letakkan dalam tas yang sekarang aku gunakan yang sebenarnya ingin ayah berikan kepada ibu . Namun , mengapa ayah malah tidak memberikan kepada ibu ? Aku tak peduli dengan jawaban ayah . Akhir kata , saya ingin Ayah  kembali kepada kami jika benar yang tertulis seperti dalam surat ayah ini . Aku dan ibu selalu menunggu Ayah di rumah . Dan ibu ,  maaf jika beasiswa ini saya tolak . Aku lebih menikmati uang yang aku peroleh dengan perlahan – lahan dan melalui kerja tanganku sendiri karena dari situ pula aku belajar  arti hidup dan arti jerih payah . Ayah , ibu aku menyayangi kalian “ , kata Jeje
Semua orang yang ada di ruang tersebut terharu bahkan selama ia mengungkapkan perasaannya tak ada suara sedikit pun . Suara tepuk tangan dan sorak – sorai mengumandangkan namanya baru terdengar setelah ia selasai berbicara . Semua orang kagum dengan pola pikir anak remaja seperti dirinya . Pujian pun tak berhenti mengalir kepada Jeje sejak ia memberanikan dirinya berkata di halayak banyak orang . Namun , karena ia menolak beasiswa tersebut ia akhirnya menolak untuk segera pulang dan bertemu dengan ibunya . Hari – hari seperti biasa kembali dijalani Jeje dengan penuh keceriaan . Hingga 1 bula berlalu sejak kejadian itu ,  muncul sesosok pria berjas hitam dan membawa banyak belanjaan datang menghampiri Jeje dan ibunya yang waktu itu  berada di teras rumah mereka . Ternyata itu adalah ayah Jeje yang ia rindukan bersama ibunya . Ayahnya kemudian meminta maaf dan menjelaskan alasannya tak memberikan surat itu kepada ibunya . Jeje merasa heran . Namun Ayahnya berterima kasih kepada Jeje yang mengungkapkan perasaannya lewat acara tersebut dari situ ia tahu jika Jeje dan istrinya masih tetap mempercayainya dan merindukan ia untuk kembali . Untuk , menepati janjinya ia memberikan belanjaan yang ia bawa untuk segera di kenakan Jeje dan istrinya . Dan mereka pun di bawa ke kota untuk tinggal bersama ayah Jeje yang kini sudah kembali sukses . Mereka pun kembali hidup bahagia .

Jadi ,  dalam hidup penuh dengan gelombang . Yang begitu nikmat ketika kita di terpa gelombang naik namun begitu menyakitkan ketika merasakan gelombang turunnya . Ketika , berada pada gelombang turun tersebut jangan mudah menerapkan prinsip untuk putus asa begitu saja dan prinsip untuk menikmati kesenangan sesaat . Namun , gunakan gelombang turun tersebut untuk menciptakan suatu usaha yang sangat berarti dan tak terlupakan karena dari situ pula kedewasaan seseorang mulai tercipta . Jadikan hidup sebagai perjalanan . Keberhasilan tidak dilihat dari berapa lama waktu untuk mencapainya tetapi dilihat dari berapa sering kesalahan datang dan usaha kita untuk mengusir jauh kesalahan itu .




Tidak ada komentar:

Posting Komentar